Saturday, 14 May 2016

Kejam!! Bapa Tendang Anak Berusia 46 Hari di Terengganu

Bagi Ayung dan adiknya Afuk, ayah mereka adalah seorang pria yang sangat kejam. Dia tidak pernah menanyakan apa permasalahan kakak beradik itu, setiap kali kesalahan terjadi ia langsung memukuli keduanya. Bahkan saat mereka bertumbuh remaja, prilaku sang ayah tidak berubah. Hal itu membuat Afuk mengalami depresi berat dan melakukan sebuah tindakan yang membahayakan jiwanya.

"Saya stres berat, jadi saya minum racun serangga," tutur Afuk.

Sang kakak, Ayung yang menemukan keadaan adiknya yang sudah terkapar di lantai dapur panik.

"Dia sudah dalam keadaan berbusa, ini harus cepet dibawa ke rumah sakit nih..Tolong! Tolong! Pah…" demikian teriak Ayung.

Herannya, sang ayah yang melihat anaknya merenggang nyawa malah memakinya, "Fuk, loe minum racun?! Dasar ngga ada otak, loe cuma ngabis-ngabisin duit gua aja loe..!"

"Papa kok kejam sekali.." demikian Ayung mengungkapkan perasaannya. "Perkataan itu terus terngiang-ngiang di telinga saya."

Suatu hari, Afuk mengalami kecelakaan. Motornya menabrak seorang pejalan kaki. Sebagai seorang kakak, Ayung merasa bertanggung jawab untuk mengurus adiknya.

"Saya tulus-tulus saja mau ngurusin, tapi papa malah bilang ngga usah, "Nanti kamu nguntit duitnya lagi!" Saya coba beresin, tapi yang saya terima ketidak percayaan. Jadinya saya cenderung memberontak. "Loe aja ngga percaya sama gue, ngapain gua pusing.""

Karena merasa direndahkan dan tidak dianggap oleh sang ayah, Ayung lari pada minuman keras dan narkoba.

"Waktu saya kelas 3 SMA ada teman bilang, "Yung, nih ada obat mabok baru, putaw..""

Memang Ayung menikmati kenikmatan sesaat, namun ia tidak pernah mengira rasa ketagihan karena obat bius jenis ini akan demikian menyiksa.

"Kalau ngga pakai sakawnya parah, menggigil ngga enak, dan akibatnya kecanduannya makin parah."

Dulu Ayung berprinsip tidak mau mengambil barang milik orangtuanya, namun karena rasa ketagihan itu begitu menyiksanya, ia akhirnya harus menelan perkataannya kembali.

"Saya nyesel, saya berpikir bahwa saya harus berhenti. Saya ngga mau begitu terus, kayaknya ngga berguna banget."

Tapi tidak semudah itu melepaskan diri dari kecanduan narkoba. Ayung berulang kali bolak-balik panti rehabilitasi, namun tetap saja ia selalu kembali kecanduan. Semakin ia mencoba dengan kekuatannya sendiri, Ayung semakin putusasa.

"Ngga bakalan bisa lepasla, udahlah.. Bodo amat deh, mau mati, mati deh.." demikian ungkap Ayung kala itu.

Tak tahan dengan keadaanya, dan rasa keputusasaan yang begitu besar menguasi hatinya, Ayung akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

"Tapi setiap kali saya sudah megang pisau, ada aja teman yang dateng dan ngetok pintu.. Ada saja kejadian yang membuat saya berhenti," jelas Ayung heran.

Tapi penundaan atas rencana bunuh dirinya itu bukanlah sebuah kebetulan, ada sebuah rencana Tuhan dibalik semua itu.

"Tiba-tiba teman datang, "Tuhan baik Yung.." dia certain segala macam lalu bilang, "Tuhan baik Yung.." Dia terus ngajakin saya ibadah, saya tolak, besoknya dia datang lagi. Terus kaya gitu setiap hari."

Hingga suatu saat temannya itu memberikan suatu tantangan kepadanya, "Yung, loe mau berhenti?"

"Pasti mau lah.."

"Kalo loe mau, loe percaya ngga Yung, Tuhan bisa sembuhin loe."

"Oke, klo itu gua percaya."

"Ya udah, doa Yung. Pasti Tuhan sembuhin loe."

Akhir-akhir itu rasa sakaw yang dirasakan Ayung semakin parah. Ia bahkan hingga membentur-benturkan kepalanya ke tembok untuk mengurangi rasa sakit yang menderanya.

"Karena saya sudah menerima tantangan itu saya akhirnya berdoa, "Kalau Tuhan Yesus seperti yang dikatakan pendeta-pendeta itu, tunjukin ke saya Tuhan. Tuhan tunjukin ke saya, saya akan jadi saksi seumur hidup saya. Dalam nama Yesus, amin." Tiba-tiba saya merasakan seperti orang yang hauuus.. terus minum air es. Rasanya dingin, alirannya dari atas kepala sampai ujung kaki," tutur Ayung sambil meneteskan air mata.

"Terima kasih Tuhan!" seru Ayung berulang-ulang sambil melompat-lompat kegirangan.

"Dibadan saya seperti ada semangat baru," ungkapnya. "Saya nangis, "Tuhan terima kasih," saya sangat bersukacita luar biasa."

Saat itu Ayung begitu heran, dirinya yang sudah seperti sampah bagi ayahnya sendiri namun Tuhan masih menerimanya.

"Tuhan, orangtua gua dah ngga peduli, mau mati, mati deh.. Tapi kamu siapa sih.. Kok Tuhan mau ngasih suatu yang baik?"

Hingga akhirnya Ayung menemukan sebuah jawaban di Alkitab, "Ada firman yang berkata, "Aku melukis engkau di telapak tangan-Ku." Ternyata saya luar biasa di hadapan Tuhan. Dia pilih saya, dan Dia bebasin saya dari keterikatan itu."

Sejak itu, Ayung menjadi pribadi yang baru. Ia pun rajin beribadah dan melayani Tuhan. Namun Tuhan tidak mau setengah-setengah memulihkan hidup Ayung.

"Tuhan negor saya dalam suatu kebaktian, yang dibicarakan tentang kita anak harus mengampuni orangtua. Berkat di atas kepala orangtua."

Inilah yang Ayung lakukan meresponi teguran Tuhan itu, "Tuhan saya minta maaf sama Tuhan terlebih dulu, ampuni dosa dan kesalahan saya." Tidak hanya pada Tuhan, Ayung juga mengambil langkah berani dengan meminta maaf pada sang ayah, namun bagaimana ayahnya meresponi pertobatan Ayung itu?

"Saya masuk ke rumah, "Pah, Ayung minta maaf.." Ditepok tangan saya, "gua ngga butuh minta maaf loe.. buktiin aja!" Taba-tiba Tuhan puter video bahwa selama ini saya tuh benar-benar nyusahin dia (papa). Saya berlutut, saya pegang kaki papa saya, saya ciumm! Papa mau berontak ngga saya kasih, saya pegang kaki papa saya."
Sekalipun Ayung mencium kaki ayahnya, sang ayah masih tetap tidak percaya. Ia meminta bukti kesungguhan pertobatan Ayung.

"Saya terus melayani, terus jujur lakukan kasih. Saya juga mulai ada hasil di pekerjaan, sampai akhirnya papa mulai melihat dan papa percaya."

Pembuktian Ayung terhadap sang ayah, membuat hidup ayahnya juga diubahkan, bahkan mau pergi beribadah kembali.

"Hampir delapan tahun bahkan sembilan tahun lebih, akhirnya papa mau ke gereja. Saya sangat bersyukur sekali dan saya bersukacita karena hal itu. Saya lihat perubahan papa begitu banyak. Akhir-akhir saya bisa gandengan tangan sama papa, jalan."

Perjalanan hidup sang ayah akhirnya berakhir di bulan Oktober 2010, namun Ayung tetap bersukacita karena ayahnya sudah mengenal Yesus. Ayungpun telah berkeluarga, kini ia hidup bersama istri dan anak-anaknya dalam kasih dan anugrah Tuhan yang luar biasa. 

Sumber Kesaksian:

Ayung


EmoticonEmoticon